<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d5256079239104749292\x26blogName\x3dJotyabetta+News\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://jotyabettanews.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://jotyabettanews.blogspot.com/\x26vt\x3d-4981344487462079032', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Saturday, November 21, 2009
Trend cupang hias terbaru













Trend cupang hias terbaru

(Artikel Ini dimuat di majalah Ikan Hias Indonesia Dfishes edisi 25 bulan November 2009

Oleh: Joty Atmadjaja


Cupang hias masih sangat banyak digemari oleh penghobby ikan hias. Selalu saja ada yang baru yang menarik minat penghobby untuk tetap memelihara cupang hias atau kembali lagi setelah sekian lama meninggalkannya. Cupang hias sangat indah dilihat dan sangat mudah untuk dipelihara. Harganyapun sangat terjangkau oleh para penghobby ikan hias. Maraknya kontes diberbagai kota di tanah air maupun di luar negeri, semakin mempopulerkan ikan ini. Memang benar kalau orang Betawi bilang cupang gak ada matinye.


Trend cupang berkembang tidak hanya pada warnanya seperti cupang dragon atau cupang naga, dan cupang alien, tetapi sekarang berkembang pula ukurannya. Cupang yang sangat besar yang disebut giant betta mulai memasuki aquarium-aquarium penghobby cupang hias. Cupang raksasa ini berukuran hampir dua kali lipat cupang biasa. Saking besarnya giant betta memerlukan perlakuan extra, baik dari wadah maupun pakannya. Satu lagi yang mulai menjadi perhatian masyarakat cupang dunia adalah cupang alam atau wild betta yang spesiesnya di Indonesia paling banyak dan masih banyak lagi yang belum diidentifikasikan.



Cupang Naga,

Dragon atau naga menjadi julukan untuk cupang yang bersisik mutiara menyelimuti seluruh tubuhnya hingga ke kepala. Warna sisik yang mengkilat, terlihat tebal dan menonjol disekujur tubuh membedakannya dari cupang hias biasa. Sangat atraktif dan terlihat menarik dengan kombinasi warna lain diseluruh siripnya. Warna sisik dan warna sirip membedakan penamaan cupang naga ini, seperti red dragon: cupang naga bersirip merah, yellow dragon: cupang naga bersirip kuning. Cupang naga mulai diperkenalkan di Aquarama tahun 2005 dan saat ini menjadi trend cupang hias di Indonesia.


Thailand memang selalu terdepan dalam menciptakan jenis-jenis cupang baru. Setelah revolusi warna metalik melalui warna copper pada tahun 2003, warna cupang semakin menarik dan sangat bervariasi. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa cupang akan memiliki sisik mutiara yang menonjol dan berkilauan. Setalah melalui beberapa persilangan lahirlah cupang yang bersisik mutiara elok sekujur tubuh dan kepala berwarna putih dan emas ketika pertama kali diperkenalkan. Mereka menamainya dragon betta atau cupang naga.


Cupang naga berkembang mulai dari munculnya warna metalik pada cupang melalui pesilangan cupang hias betta splendens dengan cupang alam betta mahachai, betta imbelis dan betta smaragdina, warna yang muncul pertama kali adalah warna copper diikuti dengan warna lain dengan intensitas warna metalik hingga ke kepala. Muncullah warna-warna solid metalik yang dinamakan blue mask, green mask, steel mask dll, Warna senada baik sisik badan, kepala maupun sirip-siripnya. Inilah generasi kedua warna metalik..disertai penyimpangannya yang memiliki warna-warna unik kombinasi. Perkembangan selanjutnya dari warna-warna unik kombinasi, muncul warna sisik putih dikepala yang menyerupai topeng dan memberikan kesan seram pada cupang tersebut. Diberilah nama monster.


Sisik putih metalik menyerupai mutiara tidak saja dimuka bahkan menyelimuti sekujur tubuh disertai warna sirip yang berbeda kontras memberikan warna kombinasi menarik. Warna putih mutiara memberikan imajinasi serupa sisik naga, maka dinamakanlah dragon. Sirip warna lain menandakan penamaan cupang naga, seperti red dragon, green dragon, balck dragon, white dragon yang dihasilkan melalui persilangan dengan warna-warna cupang hias lain yang sudah ada sebelumnya.


Cupang alien

Nama mahluk ruang angkasa menjadi inspirasi bagi penamaan cupang warna belang bentong metalik yang dapat berubah warna karena mutasi genetik marblenya yang kuat. Warna-warna alien sangat tidak terduga dan tidak bisa diturunkan secara persis sama. Karena keanehan dan ketidaktetapan warna tersebut dinamakanlah mahluk asing luar angkasa atau alien.


Gen marble sangat dominan dalam warna cupang ini, kombinasinya bisa dua warna atau lebih dengan corak yang tidak beraturan. Marble ditandai terutama dengan warna belang di kepala cupang (piebald). Marble yang baik campuran warnanya menyebar merata ditubuh dan sirip cupang yang bersangkutan.. Untuk membedakan diri dari marble biasa para peternak Thai muncul dengan nama-nama dagang sebagai trade mark sperti alien, armagedon dan koi yang kesemuanya merupakan cupang yang memiliki genetik marble.


Saat ini di Indonesia marble atau blangtong belum begitu banyak diperhatikan, hanya peternak Slipi pernah memperkenalkan serit blangtongnya pada akhir tahun 2008 dengan nama dagang Tiger untuk mencirikan belang belang warna tubuhnya.


Cupang Raksasa


Giant atau raksasa adalah cupang yang berukuran lebih dari normal, hingga mencapai 12 cm. Cupang raksasa ini terlihat sangat besar dengan bentuk tubuh yang tebal. Karena besarnya, terlihat cupang ini tidak seaktif cupang normal, namun tetap memiliki keagresivitasan sebagaimana layaknya cupang. Insang terbuka dengan gerakan siap menyerang selalu diperlihatkan ketika bertemu musuhnya. Sirip akan dinaikin seakan memperlihatkan kemarahannya. Keindahan cupang hias masih terlihat namun untuk cupang raksasa jenis halfmoon dan serit belum didapat bentuk sirip yang sekokoh cupang halfmoon dan serit yang normal.


Adalah Mr. Athapon (Uncle Sala) dan anaknya Mr. Natee, peternak Thai pemilik Diamond Fish Farm yang pertama kali mengembangbiakan cupang raksasa pada tahun 1999. Mereka mendapatkan seekor cupang plakat yang memiliki panjang 4 inchi (10 cm) dikolam mereka dan memiliki ide untuk mengembangkan cupang tersebut. Mereka mencari indukan betina yang besar dari sekitar 300 an kolam mereka untuk pasangan si cupang plakat raksasa yang mereka miliki. Dengan tidak pantang menyerah mereka mengawin silangkan cupang raksasa tersebut sehingga dicapai ukuran dan bentuk yang dikehendaki. Pada tahun 2001 Uncle Sala mulai memasarkan cupang raksasanya dan menamakannya Giant Betta. Setahun kemudian dikirimnya giant betta ini mengikuti kontes cupang internasional IBC di Amerika Serikat. Ketika itu harga seekor giant betta ditawarkan di Aquabid seharga US$ 1000 dan terjual.

Pada awalnya untuk mencapai ukuran 3 inchi (7.5 cm) dibutuhkan waktu 8-9 bulan namun sekarang untuk mencapai ukuran yang sama dapat dicapai hanya dalam waktu 5 bulan saja. Sementara sirip dan warna sudah berkembang semakin bervariasi sehingga didapat giant halfmoon, giant double tail, giant serit. Ukuran terbesar yang dapat ditemukan adalah 5 inchi (12.5 cm) pada giant berumur lebih dari 1 tahun.

Cupang alam


Indonesia dikenal sebagai sumber cupang alam terbesar di dunia, lebih dari tiga perempat jenis cupang alam dapat dijumpai pulau-pulau tanah air kita. Sayangnya cupang alam masih belum mendapatkan perhatian yang layak dari para penghobby domestik, padahal penghobby cupang di luar negeri sangat gandrung akan cupang alam bahkan IBC dalam thema Konvensinya tahun 2009 mengangkat cupang alam dan memamerkan koleksi cupang alam asli Indonesia dalam jumlah yang besar dan dengan antusiasme luar biasa untuk memilikinya.


Cupang alam sangat banyak sekali jenisnya. Tergolong dalam dua jenis yakni bubblenester atau berkembang biak dengan membuat sarang busa dan moothbrooder atau berkembang biak dengan mengerami telur dan burayaknya dalam mulut. Keduanya memiliki ukuran yang berbeda-beda, yang kecil dibawah 7 cm dan yang besar berukuran diatasnya hingga mencapai 15 cm.


Yang sangat populer adalah betta channoides, betta albimarginata, betta macrostoma, betta imbelis, betta patoti dan betta coccina. Umumnya dijumpai di pulau Kalimantan dan Sumatera. Bahkan terdapat satu jenis yang berasal dari Aceh yang sempat dinyatakan punah ternyata dapat diketemukan kembali dan saat ini berusaha dikembang biakan yakni betta rubra.


Cupang alam menjadi primadona eksport cupang hias Indonesia saat ini, ditengah turunnya harga cupang hias betta splendens di pasaran luar negeri, perkembangan ini sangat menggembirakan. Sayangnya masih banyak cupang alam yang belum dapat dibudidayakan sehingga menjadi tugas kita untuk melestarikannya dan menjadikannya primadona cupang hias asli Indonesia.

Archives News